Fenomena “Like”

Like

Fenomena “Like”.
yap,
kembali lagi bersama Bang Oi, si penulis amburadul yang selalu mencoba menulis.

kali ini saya ingin membahas fenomena like di situs jejaring sosial facebook.

Mengapa banyak orang tiba-tiba nge-chat kita hanya untuk minta “like”?
Apa sih keistemawaan “like” ?
Apakah setiap kita buat status kita butuh “like”?

Fenomena “like” ini sering saya alami bahkan sampai tingkat paling dewa.
hahah.*tertawa dewa.

“Tingkat Dewa”
terlalu lebay kayaknya.
ok lah
tingkat extreme aja.

so,

di lihat dulu gambar2 nya sobat blogger.
biar mengerti topik yang kita bahas kali ini.

pertama2 dia nge chat ke gue gan.
ni chat nya.

dan ini statusnya, dia terlebih dahulu membuat status lalu nge chat gue. sepertinya dia ingin gue sadar.

Like 2

 

dan ini status keduanya, mungkin terlalu banyak orang yang menganggap dia terlalu “lebay” atau “alay” dengan caranya seperti itu. sungguh memprihatinkan . -___- :cd

Like 3

dari gambar -gambar tersebut dapat disimpulkan sepertinya dia kesel karena gue gak pernah “like” status dia.
emang sih dia lumayan sering like status gue.
tapi gue jarang, bahkan gak pernah.
alasan gue :
1. gue gak kenal sama dia.
2. gue itu bukan orang yang kecanduan atau fanatic terhadap FB yang menggunakan FB nonstop terus coment2 status atau like orang. Gue tu gunakan FB untuk ber sosial dengan orang yang gue kenal. Pokoknya bukan sembarangan orang. *bukan berarti gue gaptek, atau cuma ikut-ikutan, karena gue sudah menggunakan FB ketika dulu orang masih kecanduan FS(Friendster). Yap, gue gunakan FB ketika isinya masih orang-orang Inggris untuk share blog gue ke mancanegara untuk mendapatkan traffic yang lebih.
3. kalau pun gue “like” status orang, paling yang saya rasa bagus dan itu yang ada pada page Home.
4. terlalu banyak status yang hanya bikin sakit mata.
5. semakin banyaknya ABABIL(ABG-ABG Labil). -____-

itu beberapa alasan gue.
Nah, kini kita jawab pertanyaan pada awal tulisan amburadul ini.

Beberapa orang mungkin bangga jika banyak yang “like” statusnya. *Termasuk saya sendiri.
Tapi bukankah “like” itu akan lebih istimewa jika orang yang menilai tanpa harus kita chat untuk like status kita, terkadang orang malah jadi bosen dan ilfeel ngelihat orang yang kayak gitu. *termasuk saya
Terus,
Apakah setiap kita buat status butuh di like ?
Menurut gue itu gak perlu, seperti yang saya jelasin.”Biarkanlah orang yang menilai”. kalau kita meminta “like” kepada orang, berarti kita menilai status kita bagus. Tetapi, bagaimana dimata orang lain ?
Kalau pekerjaan yang kita lakukan dinilai oleh kita sendiri, pasti kita selalu merasa sudah bagus. Tetapi bagaimana tanggapan orang lain ?
Kita juga harus memikirkan itu.

Lalu, ketika sobat2 blogger melihat gambar yang pertama.
bagaimana menurut sobat ?
kata2 : “bukan pemaksaan” dan “bukan ancaman”.

gue tertawa terbahak-bahak melihat ini.
mengatakan bukan ancaman dan bukan paksaan, tetapi sudah membuat argumen yang sebenarnya di dalamnya sudah ada unsur memaksa.
Segini parahkah generasi muda negara ini.?

mungkin pertanyaan itu kembali menjadi bahan renungan bagi kita.
dan Akankah lebih baik jika kita mulai menasehati anak-anak kita untuk tidak terjerumus ke hal yang seperti ini.
mencegah teman kita atau mungkin mengobati teman kita dari fanatisme terhadap situs jejaring sosial.
dan jagalah keluarga kita.

hmm.
mungkin cuma itu tulisan amburadul kali ini.
terimakasih bagi sobat2 blogger yang masih berkenan membaca tulisan-tulisan amburadul saya. :shakehand2
tetap semangat dan salam blogger.
#si Amburadul